Saturday 31 January 2015

Tujuh Tingkatan Dzikir

Dinda Sharing - Imam ash-Shadiq ra berkata, “Dzikir Lisan itu puja (al-hamd) dan puji (ats-tsana’), Dzikir Jiwa (Dzikr al-Nafs) itu kesungguhan (al-juhd) dan kemauan yang keras (al-‘ana’), Dzikir Ruh itu takut (al-khauf) dan harap (al-raja’), Dzikir Kalbu itu pembenaran (al-shidiq) dan pembersihan (ash-shifa’), Dzikir Akal itu pengagungan (at-ta’zhim) dan malu (al-haya’), Dzkir Ma’rifat itu penyerahan diri (at-taslim) dan rela (ar-ridho’), Dzikir Sirr (Dzikr al-Sirr) itu memandang (al-ru-u’yat) dan berjumpa (al-liqa’)”.

TINGKATAN PERTAMA :
DZIKIR LISAN Sayidi ash-Shadiq ra berkata, ”Dzikir Lisan itu puja (al-hamd) dan puji (ats-tsana’). Pertama-tama yang mesti dilakukan oleh seseorang yang sedang melakukan latihan dzikir, adalah membiasakan lidahnya untuk selalu berdzikir. Ia harus senantiasa berdzikir tanpa henti di mana pun ia berada dan kapan pun keadaannya. Pada tingkatan ini, dzikir diwujudkan oleh lisan dalam bentuk pujaan dan pujian yang ditujukan hanya kepada Alloh SwT. Kata "al-Hamd – segala puji-" yang diucapkan lidahnya muncul dari persaksian atas Karunia Alloh kepada sang hamba. Sang hamba mesti bersaksi dan mulai benar-benar menyadari bahwa Dia-lah yang telah melimpahkan semua karunia yang diterimanya. Oleh karena itu, sang hamba mesti selalu mentaati-Nya di mana pun dan kapan pun ia berada.

TINGKATAN KEDUA :
DZIKIR JIWA (DZIKR AL-NAFS) Sayidi al-Shadiq ra mengatakan, ”Dzikir Jiwa itu adalah mewujudkan kesungguhan (al-juhd) dan kemauan yang keras (al-‘ana)”. Pada tingkatan Dzikr al-Nafs ini, sang pedzikir mesti mulai melatih untuk menguatkan jiwanya dengan kesungguhan dan kemauan yang keras agar selalu terjaga dari alpa dan kelalaian. Nafs sang hamba mesti senatiasa terjaga dalam kondisi dzikir dan mengingat-Nya. Dengan kesungguhan dan kemauan yang kuat, sang hamba harus menundukkan nafs (diri) –nya untuk tetap berdzikir (baca : ta’at) kepada Tuhannya. Seseorang yang berpikir bahwa dirinya akan dapat menyingkap rahasia-rahasia dan mencapai Hakikat-Nya tanpa bermujahadah (kesungguhan) maka dia hanyalah berangan-angan. Karena awal perjalanan ruhani itu adalah mujahadah. Barangsiapa yang tidak memiliki kesungguhan (mujahadah) dijalan-Nya niscaya tidak akan memperoleh Cahaya dari-Nya.

Kehendak dan kesungguhan adalah esensi kemanusiaan dan kriteria kebebasan manusia. Perbedaan derajat manusia adalah sesuai dengan perbedaan tingkat kehendak dan kesungguhan masing-masing manusia. Dengan kata lain tingkat kemanusiaan (insaniyyah) seseorang dapat diukur dari kuat lemah kesungguhan dan kemauan diri (nafs)-nya untuk tidak lalai dan senantiasa mengingat-Nya di dalam mencapai peringkat² ruhani di jalan-Nya.
“Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Kami niscaya benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh benar- benar beserta orang² yang berbuat baik (ihsan)” (QS 29 : 69)

TINGKATAN KETIGA :
DZIKIR RUH Sayidi ash-Shadiq ra berkata, ”Dzikir Ruh itu takut (al-khauf) dan harap (al-raja’)”.
Tingkatan Dzikir Ruh adalah Tingkatan ketika Ruh berzdikir kepada-Alloh sampai muncul hasil dari dzikirnya itu rasa takut kepada Alloh Swt yang sedemikian rupa sehingga seorang hamba merasa jika ia datang kepada-Nya dengan kebajikan (birr) dari 2 dunia (jin dan manusia), dia merasa akan tetap dihukum oleh-Nya dan pada saat yang bersamaan muncul pula rasa harap yang sedemikian rupa
sehingga jika ia datang ke hadapan-Nya dengan dosa² dunia, maka Dia akan tetap mengasihinya (dengan ampunan-Nya) Sesungguhnya tingkatan (maqam) “khauf dan raja’” ini merupakan tingkatan ruhani yang cukup tinggi. Karena tidak akan muncul rasa takut di dalam hati seseorang melainkan karena kesempurnaan pengetahuannya tentang Tuhan. Al-Qur’an Yang Mulia mengatakan, ”Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-org yang memiliki ilmu” (QS 35 :28).
Hanya mereka yang memiliki ilmu yang bermanfaatlah yang memperoleh rasa takut kepada Tuhannya Yang Maha Perkasa. Namun rasa takut tidaklah hanya terungkap di dalam kata-kata atau munajat, tetapi juga mewujud di dalam setiap amal perbuatan dan ibadah-ibadahnya.

Sayidina Ali ra berkata, ”Aku heran dengan orang yang (mengaku) takut pada siksa (Neraka) tetapi ia tidak menahan diri (dari dosa). Dan aku heran dengan orang yang mengharapkan ganjaran pahala (tsawaab) namun ia tidak bertaubat dan melakukan amal shalih.” Dan adapun orang-orang yang takut kepada kedudukkan Tuhannya dan menahan dirinya dari hawa nafsu maka Surga-lah tempat tinggalnya (QS 79 : 40-41)

TINGKATAN KEEMPAT :
DZIKIR KALBU (DZIKR AL-QALB) Sayidi ash-Shadiq ra berkata, ”Dzikir Kalbu itu pembenaran (al-shidiq) dan pembersihan (ash-shifa’)”. Tingkatan ini lebih tinggi dari tingkatan sebelumnya.
Diriwayatkan bahwa Rasululloh ﷺ bersabda, ”Janganlah kamu melihat shalat-shalat mereka, puasa-puasa mereka dan banyaknya hajji dan kebaikan mereka, bahkan ibadah malam mereka. Tetapi hendaklah kamu lihat (sejauh mana) kebenaran kata-kata dan penunaian amanat (mereka).” Jangan sampai kita tertipu karena kita hanya mengandalkan amalan lahiriyah kita (fiqih) namun melupakan amalan batiniyah (akhlaq). Banyak kita lihat orang² yang rajin melakukan shalat, berpuasa bahkan pergi hajji berkali-kali ke Baitulloh namun ternyata mereka adalah para pendusta, penipu, koruptor dan para pengkhianat bangsa dan agama. (Kita berlindung dari amalan yg seperti itu).

Syahadat yang kita ucapkan di dalam shalat kita, sudah semestinya tidak hanya diucapkan dengan lidah saja, syahadat juga mesti diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Imam Ali ra mengatakan di dalam khutbahnya, ”Pokok pangkal agama itu adalah mengenal Alloh, dan kesempurnaan dari ma’rifat kepada-Nya adalah pembenaran atas-Nya, dan kesempurnaan dari pembenaran atas-Nya adalah meng-Esakan-Nya dan kesempurnaan peng-Esa-an-Nya adalah mengikhlashkan (pengabdian) kepada-Nya, dan kesempurnaan dari pengikhlashan kepada-Nya adalah menafikan semua sifat yang dinisbatkan kepada-Nya.”

Dzikir Kalbu ini adalah pembenaran atas ke-Esa-an-Nya, yaitu ketika sang pedzikir sudah mencapai maqam musyahadah (penyaksian). Sang pezikir menyaksikan dengan mata batinnya akan Wujud-Nya Yang Tunggal sehingga ia pun membenarkan Sang Realitas seraya membersihkan hatinya dari penisbatan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya. “Maha Suci Tuhanmu Yang Memiliki Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan (kepada-Nya)” (QS Al-Shâffât 37 : 180)

TINGKATAN KELIMA :
DZIKIR AKAL (DZIKR AL-AQL) Sayidi al-Shadiq ra berkata, ”Dzikir Akal itu pengagungan (at-ta’zhim) dan malu (al-haya’)”. Agaknya maksud akal di dalam hadits ini bukanlah sekadar akal rasional, namun akal ke’arifan. Di dalam sebuah hadits lainnya, sayidina Ali ra berkata, ”Perumpamaan akal di dalam hati (al-qalb) adalah seperti lampu di tengah-tengah sebuah rumah.”  Akal yang berada dalam hati ini hanya bisa bercahaya dan menyinari alam syuhud dan alam ma’nawi jika ‘digosok’ dan ‘dipoles’ dengan tadzakkur dan tafakkur. Cahaya akal ini akan menyingkap tabir² kegelapan yang menutupi diri sang pejalan ruhani dari Al-Haqq sehingga ia dapat menyaksikan Keagungan (al-Jalal)-Nya dan Keindahan (Al-Jamal)-Nya dan terpancarlah rasa pengagungan (ta’zhim) kepada-Nya. Sebiji mata yang melihat lebih baik ketimbang ratusan tongkat orang buta. Mata dapat membedakan permata dari kerikil (Rumi, Matsnawi VI : 3785)

TINGKATAN KEENAM :
DZIKIR MA’RIFAT Sayidi al-Shadiq ra mengatakan, ”Dzikir Ma’rifat itu penyerahan diri (at-taslim) dan rela (ar-ridho’)”. Dzikir ini lebih tinggi dari Dzikir Akal. Setelah tadzakkur dan tafakkur muncullah ma’rifat. Ma’rifat kepada-Nya inilah yg membuatnya terdorong untuk berserah diri secara total (taslim) dan rela atas segala tindakan dan keputusan-Nya atas dirinya. Sayidi al-Shadiq ra berkata, ”Sesungguhnya manusia yang paling mengenal Alloh adalah mereka yang ridho akan Qadha (ketentuan) Alloh ‘Azza wa Jalla.”

Di dalam sebuah Hadits Qudsi disebutkan bahwa Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi Musa as : “Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan mampu mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai ketimbang sikap ridho dengan Ketentuan (Qadha’)–Ku” Dan melalui penyingkapan–diri-Nya di dalam pancaran cahaya, Dia menunjukkan keterbatasan kemampuan (penglihatan) mata serta kekuatan rasional, menjadikannya melampaui kekuatan (penglihatan) mata Jadi, segala sesuatu memiliki keterbatasan, hanya Tuhan yang memiliki Kesempurnaan Esensi (Ibn ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyyah)

TINGKATAN KETUJUH :
DZIKIR SIRR. Sayidi al-Shadiq ra berkata, ”Dzikir Sirr itu memandang (al-ru-u’yat) dan berjumpa (al-liqa’)”. Inilah tingkatan dzikir yang paling tinggi! Tapi apakah sebenarnya Sirr itu? Sebagian kaum ‘urafa menyebut Sirr (Rahasia) sebagai Habb, yang secara harfiah berarti biji. Sirr atau Habb ini merupakan inti dari Lubb. Dan Lubb ini adalah inti dari Qalb (hati). Jadi, Sirr adalah bagian yang terdalam dan terhalus dari hati. Habb atau Sirr inilah tempat bersemayamnya Cinta yang bersifat ruhani (Hubb) Adapun Dzikir Sirr adalah Dzikir yang muncul setelah tahapan Dzikir Ma’rifat terlampaui. Jika seorang pedzikir telah sepenuhnya berserah diri dan ridho kepada semua Qadha-Nya maka sampailah ia pada tahapan memandang Yang Terkasih setelah berjumpa (liqa’) dengan-Nya, yang kemudian Cinta
(Mahabbah) pun bersemi.

Sayidina Ali ra bermunajat:
Ya Alloh, Tuhanku…
Engkaulah yang paling terpaut pada pencinta-Mu
Dan yang paling bersedia menolong orang-orang yang bertawakkal kepada-Mu.
Engkau melihat, Engkau menguji rahasia-rahasia (saraa-i-rihim ) mereka, dan mengetahui apa yang bersemayam dalam kesadaran mereka, dan menyadari sampai ke tingkat penglihatan batin mereka.
Akibatnya rahasia-rahasia mereka terbuka bagi-Mu, dan kalbu-kalbu mereka memuji-Mu dalam kerawanan yang sungguh-sungguh.
Dalam kesunyian, teman dan pelipur lara mereka adalah dengan berzikir kepada-Mu dan penderitaan, bantuan-Mu
adalah pelindung mereka.

Sumber:
❊Bihar al-Anwar 71 : 9
❊Nahjul Balaghah, Khutbah : 1
❊Bihar al-Anwar 1 : 99
❊Mizan al-Hikmah 6 :159
❊Muhyiddin Ibn ‘Arabi, Misykat al-Anwar
❊Annemarie Schimmel, Mystical Dimension of Islam, h. 60, Catatan Kaki dari Dr. Sara Sviri di dalam bukunya “Demikianlah Kaum Sufi Berbicara” hal. 21.
❊Al-Qusyairi, Risalah Qusyairiyah, hal. 76.
❊Syarif Radhi, Nahjul Balaghah, Khutbah Sayidina Ali ra
thumbnail
Judul: Tujuh Tingkatan Dzikir
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait Ragam Doa :

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2013. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Al Fikr Publisher FreTempl